3 Buah Kerupuk kulit 1000 rupiah

"Saya bukan orang pinter yang jago membuat analisa," kata Bapak itu. Entah siapa namanya.

"Yang saya tahu hanya saya harus terus berusaha untuk membuat  karyawan saya tetap bekerja."
"Karyawan ada berapa, pak?"
"Ada 2," jawabnya sambil menerima pembayaran kerupuk kulit.
Oh ya... kami bertemu di rumah teman ketika tengah bersilaturahim, bertepatan beliau mengantar kerupuk kulit.
" Kerupuk ini awalnya ketika ada yang jual 1 bungkus isinya cuma 3 biji. Harganya 1000. Terus saya tawarkan supply ke sana."
"Deal?"
"Iya. Padahal saya belum punya bayangan mau ambil darimana, bikinnya bagaimana," katanya sambil tertawa.
"Sekarang saya sedang cari 1 karyawan lagi buat kerupuk kulit."

Begitu sederhana.
Jauh dari kata njelimet dan ribet seperti yang sering dibayangkan orang ketika menyebut kata 'usaha'.

Ini adalah salah satu foto favorit saya meski  mungkin tidak proporsional, apalagi  indah.
Dulu ketika kecil saya sering dilarang hujan-hujanan.
Padahal hujan-hujanan itu mengasyikkan.
Makanya meski dilarang, saya nekad. Selepas main hujan di SD pulangnya lewat pintu belakang. Seolah dengan begitu orang tua tidak tahu kalau anaknya habis hujan-hujanan :-)
Agak gede sedikit, naik sepeda sampai perbatasan Kebumen dengan teman.  Pulangnya hujan.  Bukannya berteduh, kami asyik pulang hujan-hujanan.
SLTA sama.  Ketika pulang main, tiba-tiba  hujan.  Dipinjami payung.  Sebagai orang Jawa yang menghormati niat baik, payung diterima.  Sampai jaln besar, payung dilipat.  Hujan-hujanan lagi.
Di Bekasi salah satu yang paling berkesan ketika konvoi boncengan motor  ke Bandung.  Sepanjang jalan hujan.  Badan menggigil.  Sampai tujuan jadi hangat ketika disajikan makanan dengan menu pete bakar  :-)
Lupakan sejenak ketakutan akan banjir.
Biarkan anak keluar, mengekspresikan jiiwa, dan menikmati tiap tetesan air dengan segala barokahnya....

Sinetron Operasi Tangkap Tangan Korupsi



Sore kemarin terjadi Operasi Tangkap Tangan di Kementerian Perhubungan.

Sama sekali tidak mengherankan sebenarnya. Sudah jadi rahasia umum kok, kalau pelayanan publik di negeri ini bukanlah pelayanan, tapi minta dilayani.

Yang mengherankan justru ketika nonton TV, sekilas presenternya menyebut nominal pungli HANYA puluhan ribu hingga jutaan rupiah.
Takut telinga  salah dengar, saya coba googling dengan menyertakan kata HANYA sebagai keyword.
Dan...
Ada lho ternyata situs yang mencantumkan kata itu.

Begini.
Indonesia itu mayoritas penduduknya rakyat kecil. Salah satunya saya. Serius, ngaku saya...
Salah satu kejahatan terorganisir yang suaaaangat kami benci ya korupsi ini. Para pejabat itu lupa kalau digaji dari keringat kami, dibayar untuk melayani kami. Tapi kok ya  masih kurang dan malah terus memeras hasil keringat kami.
Makanya kami bersorak ketika para pejabat dengan korupsi milyaran rupiah ditangkap KPK.
Kami bergembira saat perampok trilyunan rupiah  berdasi itu dijebloskan ke bui. Ironisnya senyumnya masih mengembang.
Geregetan yakin lah....
Sama seperti geregetannya emak kami ketika melihat tokoh antagonis di sinetron tersenyum dengan licik.

Dan faktanya korupsi macam itu memang mirip dengan kisah sinetron kita.
Di zaman serba sulit dan pelemahan daya beli, sinetron kita konsisten dengan cerita absurd keluarga-keluarga kaya dengan latar belakang cinta-cintaan.
Begitulah kami melihat korupsi milyaran dan trilyunan rupiah. Cuma bisa gedheg sambil kadang membayangkan seberapa banyak uang korupsi itu kalau disusun ya...?

Sementara dompet kami? Waktu musim gajian bisalah sesekali beberapa warna biru dan merah bertengger.
Tapi kalau sudah tanggal tua, dominasi mereka akan digeser pecahan 2 ribu, goceng, ceban, atau 20 ribuan. Sarapan cukup nasi uduk dengan bakwan atau tempe goreng. Tanpa telur! Cukup goceng budgetnya.
Penghematan coy....

Maka ketika pungli senilai puluhan ribu hingga jutaan disepelekan dengan kata 'hanya', kok saya jadi tersinggung ya...

Buat kami OTT korupsi 7, 8, 9, 10 digit layaknya sinetron. Terlalu jauh dari angan. Hanya bisa ditonton seraya mengaduk-aduk emosi.
Tapi korupsi puluhan ribu itulah realita yang tiap saat dihadapi dengan mempertaruhkan uang beras.
Orang kecil macam kami hanya bisa ndomblong dengan korupsi kelas kakap, tapi pusing setengah hidup menghadapi pungli membuat KTP, pengantar desa, atau kecamatan.
Kami mendadak panas dalam saat musti membayar puluhan ribu agar KK cepat jadi. Tak sudi membayar? Bisa... tapi lama....
Izin ini itu juga harus menyediakan uang biru merah.
Makanya... mbok ya jangan menyepelekan korupsi kecil dengan kata 'hanya'.
Karena yang 'kecil' itu lah isi dapur kami....


Dari Komunitas Tin untuk Garut

Siang begitu teriknya ketika terdengar raungan sirene mobil pemadam kebakaran. Mestinya kendaraan lain akan menepi memberikan jalan agar mobil pemadam kebakaran bisa lewat seperti kata buku pendidikan kewarganegaraan anak saya.

Tapi ini tidak.
Sebagian kendaraan memang menepi. Tapi sebagian lainnya justru memanfaatkan  ruang bagi mobil pemadam itu. Langsung kebuuut.... Mendahului mobil pemadam yang terpaksa mengalah, kembali jalan tersendat....
Betapa empati makin menipis...
Maka ketika teman-teman BFL berinisiatif mengadakan lelang amal untuk donasi bencana banjir Garut, serasa ada guyuran es yang menyejukkan.
Lebih menggembirakan lagi ketika lelang dieksekusi. Berlomba-lomba para tiner dari berbagai penjuru tanah air secara spontan menyerahkan koleksinya sebagai bonus lelang. Untuk lelang LDA saja, lebih dari 20 item bonusnya dengan hasil akhir 12470000 rupiah.
Belum lelang lainnya.
Konon terkumpul total lebih dari 20 juta.

Hanya melalui media facebook!!!
Merinding saya....
Sungguh suatu kebanggaan bagi saya bisa menjadi bagian kecil dari Komunitas Tin Indonesia.
Meski sering terdengar suara sumbang, tiner Indonesia tetap bergerak.
Memberi manfaat, menebar empati...
Bukan karena kaya, tapi karena kami perduli....

Tin, Khasiat dan Testimoni

Bismillah
Wattini wazzaytun
Bahkan Allah berfirman atas nama buah tin disandingkan dengan buah zaitun.
Pasti ada yang spesial dengan buah ini. Penelitian pun dilakukan. Hasilnya? Seabrek manfaatnya.
Jadi kalau galau dengan harga tin, lihat dari sisi manfaatnya.
Tin dan batu akik ada miripnya. Sama-sama mahal.
Tapi rendaman daun tin dalam air panas khasiatnya banyak. Rendaman batu? Mesti ke Ponari dulu kayanya.
Harga tin turun?
Alhamdulillah....
Akan makin banyak orang yang bisa menikmati khasiatnya.
Dan wajar saja sebenarnya. Semakin banyak orang punya pohon tin, semakin melimpah stok. Sementara harga kaitannya dengan supply and demand.
Fokus ke khasiat akan lebih baik.

KTC (Kebun Tin Cikarang)

"Ahad pagi antum ada acara, ga?" begitu bunyi tulisan di WA.
Hmmm... mau ada tamu.
"Insya Allah rencana mau ke KTC."
Halah...!!
Tujuan utamanya ke KTC ternyata, bukan ke saya.


Tapi pantas saja sebenarnya.
Untuk penggemar tin terutama daerah Cikarang-Bekasi dan sekitarnya,  KTC adalah salah satu destinasi yang wajib dikunjungi. Ratusan bibit dan pohon tin beraneka varian terhampar di sana, bertetangga dengan puluhan pohon pepaya yang tengah berbuah lebat.
Saung teduh di atas kolam nila membuat suasana makin asri. Apalagi ada sepiring uli goreng dan pepaya mengkal krenyes-krenyes....


Memulai bertanam tin dari sekitar 3 tahun lalu di halaman rumah, KTC berkembang pesat di lahan yang cukup luas. Bahkan KTC jilid 2 kini dalam proses. Ratusan juta aset KTC dalam hitungan saya. Atau tembus M mungkin....
Luar biasa....

Jangan pernah berpikir keberhasilan itu tercapai dengan instan. Perlu kerja keras yang luar biasa untuk memperkenalkan tanaman yang relatif belum terlalu dikenal di Indonesia. Buka stand di Tanam Perdana Indonesia Berkebun dilalui dengan tatapan heran pengunjung pada si entin. Apalagi ketika disebutkan harganya yang lumayan bikin shock.
Tidak kapok, KTC buka stand lagi di GCC. Hujan-hujanan. Nekad!
Tapi ya... itulah perjuangan. Diimbangi promosi online disertai pendaftaran di gmaps untuk menambah kepercayaan customer, KTC makin dikenal.

Izin Allah tentu saja di atas segala kerja keras. Izin, ridha yang mungkin terjadi karena kedermawanan Ridwan Setiawan sang owner KTC. Ketika ada bencana, KTC salah satu yang terdepan bergerak. Entah sudah berapa pohon aset KTC diniagakan dengan Allah melalui lelang amal.


Dalam silaturrahim pun beliau luar biasa. Newbie macam saya tetap disambut dengan segala keramahan. Mengajari dengan sabar mulai dari varian, pemupukan hingga grafting. Bahkan tak segan berbagi cutting dan entress agar saya bisa punya pohon tin.

Terima kasih banyak, suhu...
Ditunggu kopdarnya waktu nila layak goreng... :-)

Berjualan ala Hamzah




Hamzah berjualan.
Mendadak dia minta dibelikan chocolatos, yupi, richeese, nutrisari, dan entah apa lagi. Buat dijual di sekolah.

Uminya cuma mengiyakan seraya bertanya,"Temannya ada yang sudah jualan?"
"Ada. Mbak A jualan B, C, dan D."
"Kalau begitu Hamzah jualannya E, F, sama G."
Deal! Dan berangkatlah uminya ke agen sembako.

Hari pertama berjualan, Hamzah pulang dengan senyum lebar. Dagangannya habis.
Saya ikut tersenyum.
Ikut senang.
Bukan masalah keuntungan. Tapi lebih ke kemandirian... juga keberanian. Betapa itu terbawa hingga ke rumah.
Kalau ada tamu orangtuanya yang dia kenal, tanpa ragu akan dia tawari.
"Mau yupi, atau momogi?"
He... he....


Hari kedua dia masih tersenyum. Campur bingung dan geli. Uang hasil jualan kok lebih sedikit dari hari pertama. Padahal penjualan kurang lebih sama.
Hmmm....
Saatnya belajar bahwa hasil kadang tak semanis ekspektasi. Bisa karena masalah intern, sering pula dari eksternal. Dicurangi misalnya....

Siang ini di hari ketiga senyumnya kembali lebar. Dompetnya penuh recehan. Sibuk menghitung hasil penjualan, mendadak dia ingat sesuatu. "Botol minumnya ketinggalan....

Duh....
Sudah 2 botol tupperware seharga 100 ribuan yang hilang di sekolah. Ini mungkin jadi yang ketiga.

Uminya langsung memberi ceramah gratis. Saya hanya diam.
Wajar uminya ngomel. Setidaknya untuk mengingatkan bahwa berjualan bagus, tapi tidak boleh membuat lalai. Apalagi melupakan tugas utamanya.

"Jadi bagaimana? Mau dipotong saja? Sekali potong 10 ribu?"

Saya tahu uminya cuma menggertak. 1 box jajanan terjual, keuntungan Hamzah paling 1 - 3 ribu. Mana tega dia...

Hamzah cuma menunduk.
Entah takut, sedih, atau pura-pura....
Dan saya berkata dalam hati,"Proud of you, son!"


Bapak Penjual Tahu yang Membuat Saya Malu


Alhamdulillah bertemu Bapak ini di panasnya Cikarang yang berdebu.
Bapak yang pernah membuat saya menangis.
Beberapa bulan yang lalu. Atau setahun yang lalu, mungkin....
Malam itu menjelang Isya, jalanan Teleng rusak parah.
Saya harus fokus ke jalan dan kendaraan di depan yang tersendat layaknya siput. Lubang jalanan sebagian tertutup air, sisanya licin tertimpa gerimis.
Terlihat sebuah gerobak pelan menyusuri jalan. Sangat pelan. Yang mendorong adalah seorang bapak dengan tangan kiri. Tangan kanannya memegang kruk sebagai tumpuan pengganti kaki kanan yang bengkok.
Ingin berhenti saat itu juga, tapi pasti akan jadi sumber kemacetan baru.
Terlepas dari jalan rusak saya menunggu di depan RS Amanda. Bermenit-menit kemudian bapak itu baru sampai. Dari tempat berjarak sekitar 100 meter.
Dagangannya masih banyak. Risol, tahu, bacang, dsb masih menumpuk di gerobak. Sementara malam telah tiba.
Setelah membeli dan berbasa-basi sejenak, saya tanyakan tentang kakinya.
"Ditabrak angkot," jawabnya.
"Waktu itu boncengan berdua sama istri. Istri juga patah kakinya. Tidak berobat, tidak ada biaya..."
"Kenapa tidak mangkal saja, pak... jualannya?"
"Tidak punya tempat mangkal. Rejeki saya dari muter. Saya syukuri. Kaki saya sudah lama tidak sembuh. Saya pasrah. Saya berusaha ikhlas..."
Bapak itu menjawab dengan tersenyum. Senyum yang getir.
Saya hanya bisa termangu. Antara sedih, kagum, dan malu.
Mata saya mendadak panas, hingga terasa ada yang menggenang.
Menetes bersama air hujan...

Sekelumit Kisah Dibalik Matsui Dauphine


"Dulu waktu booming gelombang cinta, ada yang sampai jual motor apa mobil. Besoknya daunnya ditumis sama istrinya. Suaminya disuruh makan. Terus minta cerai. Sekarang ngga ada harganya...." kata bapak itu seraya terkekeh begitu mendengar harga pohon tin Matsui Dauphine yang relatif masih mahal. Setidaknya jauh lebih mahal dari pohon singkong yang sama-sama bisa tumbuh dengan ditancap.
Argumen yang sama dan berulang tentang booming gelombang cinta dan batu akik selalu jadi peringatan bagi penghobi tin.
Sah-sah saja.
Perlu juga didengarkan bagi yang mengejar varian untuk koleksi.
Hukum pasar berlaku. Semakin banyak stok, harga akan semakin turun.
Saya sih asyik-asyik saja harga turun, biar cepat punya yang belang-belang :-)
Lalu kalau harga turun apakah dunia perentinan akan lesu?
Masih sangat panjang dunia tin di Indonesia. Ketika Turki sudah panen ribuan kg per hari, kita 1 kg per kebun per hari pun belum. Sementara jumlah kebun tin masih sangat sedikit. Kita baru jualan bibit. Kalau pasar bibit lesu, peluang akan bergeser ke buah dan daun. Selepas itu baru produk turunan semacam selai, tin kering, sirup, dsb. Gelombang cinta, batu akik, produk turunannya apa?
Deuh...
Kalau sudah begini jadi terpikir kuliah di jurusan pertanian.
Biar ada varian tin baru dari Indonesiah.
Biar kelak bisa menikmati masa tua di kampung seraya memandang buah kurma milik sendiri yang tengah dipanen.
Dan ketika ada orang bertanya tentang profesi  akan dijawab dengan penuh kebanggaan,"PETANI."

Yang Tersisa dari Lebaran 2016

Yang tersisa dari lebaran, Cikarang 12 hari ditinggal mudik.
1. Pisang ampyang/kreak berbuah. Sebentar lagi bisa menikmati sayur jantung pisang. Yummy...
2. Kelengkeng tersisa 2 biji. Petik aja wis, daripada gak kebagian. Manisss....
3. Tin segar bugar, tidak ada yang wafat. Terima kasih tetangga yang ikhlas menyiram.
4. Tin yellow cikarang mulai keluar pentil buah. Semoga bisa matang, biar jelas identitasmu, nak... Yellow cikarang? Apa maneh iki? Ya... dari seller di Cikarang bilangnya cuma tin kuning. Harga juga lumayan mahal. 35 ribu. Hiks....
5. Kabel mesin cuci putus digigit siti.
6. 9 dari 10 bibit jambu kristal meninggal dengan tenang.
7. 1 pohon cabe panen prematur karena layu. Biar masih kuning, Alhamdulillah pedesss....
8. Datang dengan dompet tipis. Sementara tagihan listrik, PAM, jemputan, sekolah sudah menanti. Sebenarnya alasan saja, sih. Dari sebelum mudik juga memang sudah tipis.
9. Perut membuncit, timbunan lemak, dan tabungan kolesterol tentu saja.
10. Curhat teman yang tidak bisa berbagi oleh-oleh karena dimakan sendiri di jalan akibat kelamaan macet.
11. Cerita tetangga yang 3x isi bbm @10 liter seharga 50 ribu. Dia menghabiskan 1.5 juta hanya untuk bahan bakar melintasi kota bernama Brebes. Dia bercerita sambil tertawa. Tawa yang getir....

Telat?
Ra pa pa.
Toh saya balik Cikarang juga memang telat.

Mertua dan Virus Hijau

Awal punya rumah, saya terobsesi dengan tanaman.
Meski tak tahu nama, khasiat, jenis,... kalau suka ya tanam.
Pagar bukan tembok, kayu, atau bambu. Tapi teh-tehan ala pagar hidup di kampung.
Kanopi terbentuk dari rimbunnya daun anggur. Entah anggur apa. Buahnya asyeeeem....
Suatu ketika mertua yang asli gaul datang ke rumah dan berkomentar,"Ini rumah apa hutan?"
He... he....
Sampai tiba pada satu masa dimana kebutuhan akan ruang memaksa saya membersihkan semua tanaman itu.
Meski tanpa berderai air mata, rasanya tetap sedih. Hikss...
Sementara di negeri Tambun sana mungkin mertua tengah tersenyum menikmati kemenangan.
Lepas pembersihan itu, perlahan beberapa tanaman dihidupkan lagi.
Memanfaatkan lahan yang terbatas, yang penting ada hijau-hijau.
Siang ini mertua datang ke Cikarang. Membawa batang tanaman degan daun menyembul keluar dari koran yang membungkus.
"Singkong jepang. Ambil dari Bogor. Tanam di sini ya...."
Hahay...!!!

Tin Kisut Pasca Banjir Surut

Asyik tertidur di depan TV yang berubah fungsi jadi radio karena tidak keluar gambar, tiba-tiba kaki terasa menyentuh air.
Hmmm... siapa nih yang lupa beresin gelas? Tumpah deh....
Tapi kok banyak?
Menggenang....

Waaaa....!!! Banjir!!!
Air rembes dari ruang tamu dan kamar yang masih belum diuruk.
Jadilah.... tengah malam gobrak gabruk mindahin barang ke belakang.

Dan terjadi lagi....
Kisah rumit yang terulang kembali...
Padahal tidak rumit amat sebenarnya. Tinggal uruk 2 ruang itu, dan beres. Tapi perselingkuhan  dengan si entin menarik dana yang lumayan juga ternyata. Jadi merasa bersalah dengan istri dan anak....

Rumah ini dulu pernah mau saya jual, buat tambahan modal. Ibarat memanah, busur ditarik ke belakang dulu untuk menambah laju anak panah.
Ketika disampaikan ke Bapak, beliau mengiyakan. Tapi dengan syarat, mesti punya rumah baru dulu.

Lha ini. Jual rumah buat tambah modal kok mesti punya rumah dulu. Kalau buat beli rumah, ga ada tambahan modal dong?

Tapi demi bakti dan agar tidak menambah beban pikiran orang tua, kami sami' na wa atho'na. Dan tidak pernah menyesali keputusan ini.
Pasang surut usaha tidak terlalu merisaukan. Toh kami masih punya rumah.  Begitu sederhananya.

Setengah 6 pagi banjir mulai surut. Beres-beres, ngepel, antar anak sekolah done.
Tinggal nyapu jalanan yang menyisakan sebagian sampah.
Sekalian ngecek selingkuhan.
Alhamdulillah, meski kebanjiran masih sempat berbagi.
Dengan semut...
Si entin kisut....

Guru, Murid, Orangtua, dan Pendidikan

Seorang guru SMK berdarah-darah dibogem orang tua murid. Karena hal 'sepele', ditegur akibat tidak mengerjakan tugas. Entah cerita lengkapnya seperti apa, yang jelas bapaknya tidak terima. Datang ke sekolah, dan... begitulah.
Terhenyak saya....
Terbayang kalau saya yang jadi murid.
Lapor orangtua karena ditegur. Berani saya pastikan orang tua tidak akan membela. Bahkan akan ada tambahan kuliah dadakan tentang kewajiban dari mulut beliau yang tak pernah kuliah.
Lapor karena ada hukuman fisik?
Ah... tak pernah saya terima hukuman fisik. Tapi kalaupun terjadi, perkiraan saya akan keluar wejangan tentang memuliakan guru.
Betapa kami belum ada apa-apanya dalam menghormati mereka.
Lalu akan mengalir cerita guru-guru bapak kami yang datang dengan sepeda kumbang. Begitu sampai gerbang sekolah, murid-muridnya sudah menyerbu, berebut mencium tangan dan menuntun sepedanya dengan takzim.
Terbayang pula sosok bernama Mbah Nur. Mengajar kami hafalan dan a ba ta tsa di kamarnya.
Ikhlas, tanpa bayaran, tanpa mengeluh...
Ketika kami yang tak pintar bolak-balik salah, beliau hanya tertawa.
Semoga menjadi amal jariyah nggih, mbah....
Waktu terus berputar. Generasi pun berganti. Teman dan adik-adik kami menyambung tongkat estafet menjadi guru. Kemuliaan dan penghormatan itu tertanam terus di dada kami.
Sayup terdengar gumaman Kirey.
Pagiku celah, matahali belsinal
Kugendong tas melahku dipundak
Guluku telsayang
Guluku telcinta
Tanpamu apa jadinya aku
Tak bisa baca tulis, mengelti banyak hal
........

Di Balik Si Entin


Kacang panjang, cabe, lidah buaya, jambu, belimbing, gac... semua saya tanam.
Menanam itu bagi saya  buat senang-senang.
Senang ketika kotiledon pecah
Senang ketika tunas baru bermunculan
Lalu kenapa belakangan banyakan porsi buat tin?
Keterbatasan lahan saja sebenarnya.
Saya jadi harus selektif memilih yang tidak terlalu makan tempat, unik, bermanfaat, etc.
Dan tin ternyata memenuhi semua itu hingga kesenangannya bertambah.
Senang saat ada orang bertanya,"Tanaman apa itu, mas?"
Senang ketika tahu ternyata manfaatnya banyak buat kesehatan. Segambreng!
Senang saat memetik buahnya yang berlainan bentuk, warna, ukuran tiap jenisnya.
Senang saat ada yang membawa pulang daunnya dan datang lagi seraya berkata,"Badan saya lebih seger...."
Peluang nih...
He... he....

> Bukannya mahal dan beresiko ya, nanam tin? Fresh cangkok akar gondrong saja masih banyak mati pas repotting, meski konon sudah bergelar master?
Memang. Tapi jauh lebih mahal impor sendiri dari luar negeri. Jauh lebih beresiko juga.
> Tanganmu kan dingin. Makanya pada subur.
Tanaman itu gak butuh tangan dingin. Yang dia butuhkan media yang tepat dan nutrisi yang cukup
> Tapi tanganku panas.
Rendam di es batu kalau mau dingin.
>Tapi....
Stop! Cukup mengumpulkan alasan. Jangan sampai si entin bilang," Rangga, yang kamu lakukan pada saya itu... JA HAT!"

.
.
.
.
>> dialog imajiner sambil nikmatin pala pusing dan idung meler <<

Suatu Senja di Jalanan Cibitung

Ba'da maghrib di Kalimalang, jembatan 2 Jatimulya. Macet parah. Tiap ruas jalan dipenuhi kendaraan yang mengambil jalur hingga sisi paling kanan. Krodit di perempatan. Akhirnya mobil-mobil hanya bisa parkir. Motor merayap, lebih pelan dari orang berjalan, membelah jalan berlumpur.

Hmmm...
Seperti ini Brebes lebaran lalu. Jangan-jangan bukan salah tol, pemerintah, atau Brebes. Jangan-jangan memang kami yang belum siap punya tol baru....

Gagal menembus blokade perempatan, saya belok kiri ambil arah ke Tambun.
Lancar...
Mulai tersendat menjelang Pasar Induk Cibitung.

Mendadak ada anak muda belasan tahun berboncengan menyalip motor langsung potong jalur ambil sisi kiri. Pengendara motor yang dipotong jalurnya terkejut, spontan menyalakan klakson.
Rupanya si anak muda tidak terima diklakson. Mereka berhenti, buka helm, pasang wajah sangar, mencari arah suara klakson.

Mendadak teringat kejadian serupa sekitar setahun yang lalu. Saya spontan memencet klakson ketika ada anak muda belasan tahun mendadak masuk ke jalan, langsung lawan arah dengan kecepatan tinggi di Pilar. Tidak terima dengan suara klakson saya, mereka menghampiri, buka helm. Lalu keluarlah makian, segala anjing, babi dalam deretan kalimat panjang yang tersusun rapi dan terucap begitu fasih. Saya hanya bisa terpana. Shock, takjub, spechless....

Pasar induk tidak terlalu macet. Hanya terhalang 1 bus untuk sampai pintu keluar pasar induk ketika terlihat beberapa orang memukuli mobil silver tepat di depan bus. Beberapa pembonceng motor di belakang saya berloncatan dari motor, lari ke atah mobil silver dengan tangan mengepal.

Duh....
Betapa kami begitu mudah meledak. Padahal masalahnya apa, saya yakin mereka juga belum paham.
Lepas pasar induk, mobil silver tidak kelihatan. Hanya ada bemper warna silver dipegang beberapa orang yang berkerumun, lalu sigap naik motor dengan kecepatan tinggi... menyisakan kami yang melaju pelan dengan waswas di jalur kiri.

Sampai Polsek Cibitung terlihat mobil silver terparkir di halaman. Belasan polisi berjaga. Sebagian mengatur lalu lintas yang menjadi macet akibat orang-orang yang penasaran.
Wajah-wajah keras yang tadi melaju kencang tampak di dekat pintu Polsek.
100 meteran selepas Polsek Cibitung, bergerombol orang-orang berbadan tegap. Di tangan mereka ada golok, celurit, samurai....

Oh ya.... Ada yang terlewat.
Entah kebetulan atau tidak, listrik di Pasar Induk padam. Kerlip lampu kendaraan, lilin, dan lampu emergency tidak mampu menyembunyikan gelap yang meraja....
Segelap hati kami....

Pemilihan Presiden 2014 di mata Orang Awam Seperti Kami



Kalau ada  Pilpres yang paling melelahkan bagi masyarakat awam seperti kami, mungkin Pilpres 2014 ini. Bukan secara fisik, tapi pikiran.

Kenapa?
Lihat saja di facebook.

Informasi berkembang begitu liar.  Jauh dari ilmiah atau bisa dipertanggungjawabkan.   Asal  ada artikel yang kira-kira menguntungkan calon yang didukung, langsung pasang status.  Tanpa disaring. Ironisnya yang pasang status seperti itu bukan sekedar orang awam atau simpatisan, tapi caleg. 
Kok bisa punya teman caleg?
He… he… he….

Yang lihat status itu pun tak mau kalah.  Teman pendukung kasih jempol  sebanyak-banyaknya.  Eh, salah…  cuma bisa kasih 1 jempol, ya.
Pendukung lawan pun tidak mau kalah.  Membantah dengan cara membabi buta.  Kadang sekedar celaan.

Bagaimana tidak mumet, coba.

Contoh yang paling simple ya kesaksian Novela. 
Pendukung pasangan nomor 2 mencibir dengan mengatakan orang gunung kok pengusaha.  Nggak nyambung, kan?
Memang apa salahnya orang gunung tapi pengusaha?  Memangnya salah orang pedalaman, ceplas ceplos tapi pintar dan terpelajar?

Pendukung nomor 1 pun tidak jauh beda.  Cuma karena lucu dan terkesan polos dipuji setinggi langit.  Ketika ada yang menampilkan gambar Novela dengan bendera Israel, dijawab,”Biarlah dia dengan benderanya.  Yang  dipakai adalah kejujurannya.”
Lha tolok ukur kejujuran itu apa? Kesan polos dan ceplas-ceplosnya itu?
Masalah bendera juga dianggap sekedar secarik kain yang diwarnai, tidak ada kaitan dengan masalah sikap.  Tapi di sisi lain ketika demo sering membawa bendera itu untuk dibakar.  Menyuarakan boikot produk-produk zionis.  Mendua nggak tuh, sikap seperti itu.

Akhirnya ketika mendiskusikan hal ini di facebook sambil ngopi, pendukung pasangan no 2 marah ke saya.  Dianggapnya saya pendukung pasangan nomor 1.
Pendukung pasangan nomor 1 juga menganggap saya antek pasangan nomor 2.

Komentar saya dihapus.
Saya di unfriend.
Saya diblokir.

Ya sudahlah….

Watunya mencari nafkah untuk anak istri….

BBM Naik dan Tukang Bubur Ayam



Obrolan sama tukang bubur ayam pagi ini

“Bubur sudah naik belum, pak?”
“Masih.  Masih 3000.”
“Kan harga-harga sudah pada naik?”
“Iya sih. Ini aja sampah (sambil nunjuk daun bawang) sudah 8000.  Ayam tadinya 25 jadi 30.”
“Padahal BBM belum naik ya, Pak?”
“Iya.  Harga sudah naik, BBM belum jadi naik.  Nanti BBM naik, pasti naik lagi harga.  Ini ati ampela saya modalnya 2000 dapat 3.  Kalau dimasak kan jadi kecil.  Pada komplain juga.  Katanya mahal amal, 1000 kecil segini.  Belum dihitung minyak, bumbu, gas….”

Bubur selesai dibungkus.  Obrolan selesai.

Cobalah Berbincang Sejenak


Adalah sebuah perdebatan di sebuah group dimana member saling adu argument tentang kejamnya dunia kapitalis negeri ini, dimana karyawan dituntut memeras keringat dan otak dengan penghargaan kurang sepadan.
Hal itu membuat saya teringat dengan beberapa percakapan saya sekian waktu terakhir.

Diawali dengan tukang ketoprak.  Ketika mencoba menganalisis hasil penjualan ketoprak dengan keuntungan 40%  dari perspektif saya, dia hanya tersenyum kecil.  Topi lusuh, gerobak kusam, dan kaos berpeluh keringatnya sedikit  membelokkan asumsi, bahwa keuntungannya di bawah 40%.  Yang jelas di hari biasa sekitar 1 jam mulai  berjualan, biasanya terjual sekitar 15 porsi dengan harga Rp 5000,00 per porsi.
Di waktu yang lain secara tidak sengaja bapak tukang ketoprak yang justru buka-bukaan tentang keuntungannya.
“Agak malas sebenarnya jualan di hari Senin.  Biasanya sepi.”
“Terus yang ramai hari apa biasanya, Pak?”
“Yah … kalau hari lain standar. Yang ramai hari Jumat ada pasar  malam, sama Sabtu Minggu.  Bisa dapat 600 ribu.”
“Bersih?”
“Total.  Tapi kan lumayan.  Buat belanja lagi sekitar 200 ribu.”
Langsung otak menghitung secara otomatis.  Berarti keuntungan 400 ribu per hari selama 3 hari (Jumat, Sabtu, Minggu), sudah 1.2 juta.  Hari Senin sampai Kamis belum dihitung.  Anggaplah dapat 50% dari hari ‘ramai’, dia dapat keuntungan 200 ribu.  Sudah 800 ribu.  Total 2 juta dalam 1 minggu.
Sebulan…?
Itu tukang ketoprak…


Cerita lain datang dari tukang cimol. 
Dia berjualan cimol di pasar malam.  Tiap malam berpindah tempat. 1 plastik kecil cimol dia jual 1000 rupiah dengan bumbu aneka rasa. Di hari Minggu biasanya ada pasar pagi.  Nah, di pasar pagi dia tidak jualan cimol, tapi teh poci.
Hasilnya? 
Bebarapa bulan yang lalu beliau resign dari tempat kerjanya.
Artinya hasilnya berjualan lebih besar dari gajinya selama ini.


Di sebuah bus, ada pedagang asongan yang duduk beristirahat sejenak setelah menjajakan dagangan berupa kacang oven, permen jahe, dan permen tolak angin.
“Hasilnya besar ya mas, jualan kaya gini?”
“Alhamdulillah, mas… cukup buat makan.  Sama bikin rumah di kampung.”


Dari Purwakarta, ada juga teman sekolah dulu berbagi cerita. 
Dulu dia orang yang sangat kuat prihatinnya.  Sekolah hamper tidak pernah jajan.  Bukan karena takut jajanannya tidak higienis, tapi karena memang keuangannya terbatas.
Awal bekerja dia ‘nyambi’ jualan.  Jualan apa saja.  Tempat jualannya pun fleksibel.  Di tempat kerja, di atas bus atau kereta, hingga ngelapak di pinggir jalan.
Suatu ketika dia kaget luar biasa, ketika keuntungan hasil penjualannya dalam 1 hari melebihi gajinya dalam sebulan.  Mulailah dia lebih serius menata ‘bisnis’ kecilnya.  Dengan modal sekitar 12 juta hasil patungan 3 orang, dia mengibarkan bendera untuk menjadi supplier perusahaan-perusahaan.
Hasilnya ternyata luar biasa.  Hingga akhirnya dia memutuskan keluar dari pekerjaan, keluar dari usaha patungaannya, dan mengerek bendera sendiri sebagai supplier dengan modal awal hamper 1 milyar.


Kalau bertemu pedagang yang lusuh, jangan tertipu dengan penampilannya.
Kalau makan di pinggir jalan, cobalah untuk berbincang sejenak dengan sang penjual.
Coba untuk membuka mata bahwa dunia ini sangat luas.
Dan rizki Allah pun begitu luas….

Syifa ....

Lebaran menyisakan lembaran rupiah di tangan Syifa

"Abi jangan kerja, ya," katanya.

"Nggak, kok. Abi kan masih libur."

"Kalau sudah nggak libur juga jangan kerja,"

"Kan abi harus cari uang."

"Abi kan cari uang buat kakak, sekarang kakak sudah punya uang."

"Terus buat bayar listrik?"

"Pakai uang kakak saja."

"Buat bayar rumah?"

"Pakai uang kakak."

"Nggak cukup...."

Lama dia terdiam sebelum kemudian berkata,"Kakak ngantuk."

Dalam lelapnya saya mencium pipinya seraya berjanji suatu saat akan bekerja dari rumah.

Samber Colok

Salah satu kearifan orang Jawa adalah 'doktrin' agar tidak keluar di waktu Maghrib. Untuk tujuan selain ibadah tentunya.

Saya sebut 'doktrin' karena banyak kebiasaan itu dilakukan dan ditanamkan tanpa penjelasan logis. Kalau ditanya alasannya kenapa, jawabannya klise, "Ora ilok!"

Atau dalam bahasa umum: pamali!

Kembali ke larangan keluar ketika Maghrib.

Beberapa waktu lalu ketika pulang kerja dengan mengendarai si trekko flash hitam selepas Maghrib, terasa banyak serangga kecil beterbangan di jalanan. Satu hal yang hampir tidak pernah saya temukan semenjak tinggal di Bekasi.

Kami di Jawa dulu menyebutnya sebagai samber colok. Sesuai dengan namanya, binatang ini beterbangan seperti tanpa aturan, melanggar apa pun yang ada di dekatnya. Tak jarang serangga ini melanggar mata pengendara sepeda atau motor. Akibatnya mata terasa seperti dicolok, sakit, merah, hingga mengeluarkan air mata.

Uniknya binatang ini tidak keluar disembarang waktu. Hanya menjelang hingga selepas Maghrib.

Teringat kembali saya akan 'doktrin' itu. Kalau secara umum masyarakat Jawa pedesaan hanya beralasan 'ora ilok', dalam perspektif lain larangan itu bisa dilihat sebagai sesuatu yang nyunnah.

Bekerja, mencari nafkah sudah dialokasikan waktunya pagi hingga petang. Ketika waktu Maghrib tiba, stop! Waktunya untuk istirahat, melaksanakan shalat sebagai kewajiban, beribadah sebaik-baiknya. Sisi ruhiyah perlu diisi untuk menciptakan keseimbangan.

Barangkali karena itu lah Allah menciptakan samber colok, agar mencolok mata orang-orang yang masih bertebaran di muka bumi meski waktu Maghrib telah tiba.

"Ah, tidak juga, " begitu kata para manusia yang masih bertebaran. "Samber colok itu hanya makhluk kecil tak berdaya. Yang diserang hanya mata. Dia akan rontok bila kita pakai helm full face. Apalagi mobil...."

Maka seperti itulah syariat. Bagi yang berupaya menjalankannya, makhluk kecil bernama samber colok akan dijadikan sebagai sentilan. Tapi bagi yang tidak ingin melaksanakan, terlalu banyak alasan bisa dibuat untuk mengingkari.

Wallahu A'lam